Menjemput Fajar di Balik Selimut Tipis Liwa

Menjemput Fajar di Balik Selimut Tipis Liwa

Pemandangan Kota Liwa, Lampung Barat dari Istana Alam


Nyaur.com | Lampung Barat —
Angin dini hari di Pekon Sedampah Indah, Kecamatan Balik Bukit tak pernah main-main.

Udara bertemperatur belasan derajat itu seolah membawa jarum tak kasat mata yang siap menusuk hingga ke sumsum tulang. 

Namun, di atas perbukitan Istana Alam pada Rabu, 25 Februari 2026 dini hari itu, udara beku takluk oleh letupan arang dan tawa renyah.

Menjemput Fajar di Balik Selimut Tipis Liwa

Aktivitas pengunjung Istana Alam saat malam hari


Aroma dari ayam yang dibakar di atas bara, perlahan menguar, mengalahkan aroma tanah basah sisa hujan semalam.

Di kejauhan lembah, kerlap-kerlip lampu Kota Liwa berpendar sunyi bak kunang-kunang yang menolak tidur.

Bagi Mustopa, pemuda asal Tulang Bawang Barat, menempuh perjalanan melintasi kabupaten terbayar lunas malam itu.

Bersama enam kawannya, dua tenda berkapasitas empat orang menjadi rumah sementara mereka.

Menjemput Fajar di Balik Selimut Tipis Liwa
Pengunjung Istana Alam saat salat Subuh berjamaah 

Hujan yang sempat menderas pada sore hari telah undur diri, menyisakan kanopi langit malam yang bertabur gemintang—sebuah restu semesta untuk momen sahur bersama di ketinggian Lampung Barat.

Ketika lantunan azan Subuh sayup-sayup terdengar menggema membelah perbukitan, rombongan ini bersiap menunaikan salat, membiarkan sujud mereka menyatu dengan dinginnya embun.

Menjemput Fajar di Balik Selimut Tipis Liwa
Pemandangan city light Kota Liwa dari Istana Alam

Liwa sejak lama memang ditahbiskan sebagai "Kota Kabut".

Menanti mentari terbit menyibak lautan kapas putih adalah ritual wajib bagi para pejalan yang singgah.

Namun, alam selalu punya ritmenya sendiri. 

Pagi itu, kabut rupanya sedang enggan unjuk gigi. 

Alih-alih gulungan awan tebal yang dramatis, Liwa hanya menyelimuti dirinya dengan rajutan kabut tipis yang transparan.

"Bulan Agustus atau September, barulah kabutnya tebal tak tembus pandang," kekeh Suhartato, sang pemilik kawasan wisata Istana Alam, sembari sibuk memperbaiki tangga yang mulai berlubang.

Fakta bahwa Februari bukanlah musim kabut terbaik nyatanya tak lantas membuat tempat ini kehilangan magisnya.

Justru, lanskap Kota Liwa yang perlahan bangun dari tidurnya terlihat lebih nyata, bersih, dan memukau di bawah sapuan cahaya fajar.

Suhartato adalah saksi sekaligus inisiator. 

Setahun silam, saat berdiri di lahan miliknya, ia tertegun melihat pesona kota di bawah sana. 

Menjemput Fajar di Balik Selimut Tipis Liwa
Kontur perbukitan di Pekon Sedampah Indah, Kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat yang terlihat dari Istana Alam

Kontur perbukitan sekelilingnya yang berundak megah menginspirasinya menyematkan nama "Istana Alam". 

Ia mengubah lahan sepi itu menjadi bumi perkemahan agar magis Liwa tak hanya ia nikmati sendirian.

Meski baru seumur jagung dan masih terus berbenah, fasilitas di sini sudah terbilang mumpuni.

Pengunjung tak dipungut biaya masuk jika hanya sekadar singgah menikmati pemandangan. 

Bagi yang ingin mencecap pengalaman utuh, tarifnya pun sangat membumi. 

Cukup merogoh kocek Rp10.000 per orang untuk tiket camping (dengan biaya parkir inap motor Rp5.000 dan mobil Rp20.000). 

Jika enggan repot, tenda berkapasitas empat hingga enam orang disewakan seharga Rp60.000. 

Tersedia pula tiga kamar reguler (Rp250.000/malam) dan satu kamar VIP (Rp400.000/malam), lengkap dengan warung, toilet bersih, hingga gazebo untuk melepas penat.

Namun, membangun sebuah 'istana' tentu tak lepas dari kerikil. 

Menuju lokasi ini dari pusat Kota Liwa sebenarnya hanya memakan waktu sekitar 30 menit berkendara. 

Sayangnya, infrastruktur jalan menuju Pekon Sedampah Indah, Kecamatan Balik Bukit, masih menanti perhatian.

Suhartato menaruh asa besar pada Pemerintah Kabupaten Lampung Barat. 

"Kalau akses jalan diperbaiki, bukan cuma Istana Alam yang hidup, tapi juga wisata tetangga seperti Bukit Embun dan Gerbang Langit. Ekonomi warga setempat pasti ikut terangkat," harapnya. 

Matanya menerawang ke arah tebing, membayangkan potensi bukitnya menjadi titik tolak olahraga paralayang yang memacu adrenalin. 

"Kalau misal ini dibuat untuk paralayang, sangat bagus. Tapi ya, butuh bantuan pemerintah karena biayanya tinggi."

Menjemput Fajar di Balik Selimut Tipis Liwa
Area bumi perkemahan di Istana Alam

Kembali ke tenda, nihilnya lautan kabut pagi itu sama sekali tak menyisakan sesal bagi Mustopa dan kawan-kawannya.

"Udaranya sejuk, jauh dari kebisingan kota. Area kemahnya datar dan tertata rapi," ungkap pemuda 29 tahun itu. 

Baginya, Istana Alam menawarkan sesuatu yang lebih mahal dari sekadar latar belakang foto, yakni kedamaian. 

"Cocok sekali untuk liburan, ngabuburit, atau merayakan sahur bersama seperti kami."

Pada akhirnya, mengunjungi Istana Alam mengajarkan satu hal, bahwa perjalanan yang hebat tidak selalu tentang mendapatkan pemandangan yang sempurna seperti di brosur wisata. 

Terkadang, ia tentang meresapi keheningan, mensyukuri kehangatan persahabatan di tengah udara dingin yang menggigit, dan membiarkan kabut tipis bulan Februari menjadi alasan untuk kembali lagi ke Liwa pada bulan Agustus nanti.

Tidak ada komentar